Friday, August 29, 2008

Kehangatannya

Tangannya yang lembut mengelus wajahku. mataku terpejam tuk lebih merasakan kelembutannya. bau rokok kretek, menyengat menyeruak dari tangannya yang lembut. biasanya aku pasti protes, karena aku tak suka jika ia merokok, padahal aku sendiri tak bisa lepas dari kebiasaan itu terutama disaat lembur, tapi saat ini ku hanya ingin merasakan kelembutannya. kumerindu tangannya yang kokoh, kuat sekaligus begitu lembut merayu.

Cincin perak di jari manisnya memberi sensasi di wajahku. ada gelitik dingin diantara kehangatan. Tangan lembutnya bergerak mempermainkan bulu mataku yang panjang dan lentik. Dan kemudian ia mempermainkan alisku sehingga berantakan. ku sungguh menikmati kelembutan tangannya yang penuh kasih. Kemudian tanganya bergerak ke arah leherku, lembut bibirnya menggantikan kehangatan tangannya. Ia lalu menciumi mataku, pipiku dan bibirku. Nafasnya yang tadinya berhembus pelan sekarang perlahan memburu, bagai lokomotif batu bara yang berusaha melalui medan yang sedikit mendaki.

Nafasnya yang kian memburu begitu keras membuatku terkesiap, membangunkanku dari mimpi pagi itu.. Kala hangatnya matahari pagi yang lembut dari balik jendela membelai pipiku yang tertidur diatas meja kerja. Laptop mac book proku masih menyala menampilkan hitung-hitungan rancangan peralatan pengolah limbah, permintaan sebuah perusahaan makanan di Kerawang, Jawa Barat. Asbak yang penuh puntung rokok, berada disebelahnya. Deru ombak di pantai dikejauhan masih menderu, masih ada sedikit pasang akibat bulan purnama tadi malam.

"ah.. kenapa bangun...?" sesalku dalam hati
"Mestinya aku tertidur lebih lama lagi tuk menikmatinya", omelku sambil menutup mac book pro ku dan bergerak ke arah dapur.

2 comments:

Pambajeng "Broer" Argaputra said...

Nyonya..., itu ya....ceritanya? Ah, bagus tuh! Bisa membuat imajinasi jadi melayang-layang!

Badibuzzray said...

Cincin misterius?